Potensi Kawasan Konservasi Hutan Bernilai Tinggi di Kabupaten Ketapang
Author: Gusti Hardiansyah, Farah Diba, Adi Yani, Erianto, Yenny Maryani, Fathul Yusro, Denni Nurdwiansyah, Aripin, Hendarto, Zuhri Haryono, Ivan Sujana, Tri Wahyudi, Silvia Filki, Asmadi, Laksmi Banowati, Dwi Yoga Pranoto, Yeni Mariani Category: Pengajuan ISBN Publisher: Untan Press ISBN: - Dimension: 15.5 x 23 cm
SINOPSIS
Melalui fasilitasi dari proyek “Strengthening Forest Area Planning and Management in Kalimantan” dengan pelaksanaan penyusunan baseline data potensi High Conservation Value Forest (HCVF) di Areal Penggunaan Lain (APL) dan Hutan Produksi Konversi (HPK) di Kabupaten Ketapang merupakan langkah awal yang tepat untuk penyelamatan hutan yang masih tersisa di APL. Dengan skema ini, data yang sistematis-komprehensif mengenai potensi HCVF di APL dan HPK akan mendukung tersedianya informasi biofisik wilayah dengan potensi HCVF yang berada di areal masyarakat maupun yang berada di dalam konsesi perusahaan. Selain itu tersedianya data dan informasi tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat serta gender di dalam dan di sekitar wilayah yang memiliki potensi HCVF di Kabupaten Ketapang juga dapat terekam sebagai dasar penyusunan kebijakan ke depannya.
Metodologi yang diterapkan menggunakan metode kolaboratif, yaitu metode pemetaan kawasan HCVF yang terbimbing, metode penelitian potensi keanekaragaman hayati dan metode penelitian kajian sosial ekonomi dan gender, sehingga dapat diperoleh kondisi eksisting potensi biofisik di dalam dan di sekitar areal, informasi pengelolaan HCVF di tingkat tapak, dan informasi kondisi sosial ekonomi masyarakat serta gender di kawasan APL dan HPK yang terumuskan dalam 6 kriteria HCVF.
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa Kondisi hutan masih sangat baik dengan tipe hutan sekunder muda, yang tergolong dalam kategori Hutan Lahan Kering Primer, Hutan Lahan Kering Sekunder, dan Hutan Rawa Sekunder. Lokasi potensi HCVF yang tidak dikelola oleh pemegang izin tersebar secara sporadis, umumnya mengikuti alur Daerah Aliran Sungai (DAS), sub DAS dan catchment area.
Keanekaragaman flora dan fauna tergolong tinggi dengan temuan flora dan fauna teridentifikasi berstatus dilindungi berdasarkan pada IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dan endemik. Status hutan tergolong pada HCVF 1 khususnya HCVF 1.1. (kawasan yang mempunyai atau memberikan fungsi pendukung keanekaragaman hayati bagi kawasan lindung dan /atau konservasi), HCVF 1.2 (spesies yang terancam punah) dan HCVF 1.3 (kawasan yang merupakan habitat bagi populasi spesies yang terancam, penyebaran terbatas atau dilindungi yang mampu bertahan hidup (viable population)), HCVF 1.4. (kawasan yang merupakan habitat bagi spesies atau sekumpulan spesies yang digunakan secara temporer).
Hutan Pelang/Sungai Besar, Danau Buaya, Sungai Tengar, termasuk dalam hutan rawa gambut. Hutan Bukit Keruwat, Bukit Empangil, Bukit Karim, Bukit Kuri dan Bukit Sidingan termasuk daerah perbukitan yang dapat menangkap air hujan (catchment area) sehingga penting sebagai daerah resapan air, pengendali banjir dan erosi. Status hutan tersebut dalam HCVF tergolong pada HCVF 4 khususnya HCVF 4.1 (kawasan atau ekosistem yang penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir bagi masyarakat hilir).
Status hutan di wilayah tersebut tergolong pada HCVF 5 (kawasan alam yang mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal), serta tergolong pada HCVF 6 (tempat, sumberdaya, habitat dan lanskap yang memiliki nilai penting budaya, arkeologis, atau historis secara global atau nasional, atau nilai budaya, ekonomi atau religi/suci yang sangat penting bagi penduduk setempat atau masyarakat adat).
Kearifan lokal masyarakat turut berperan dalam mempertahankan hutan dan kesetaraan gender dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat berperan penting dalam kelestarian hutan. Kriteria HCVF pada kawasan APL dan HPK di Kabupaten Ketapang masih sangat berpotensi untuk dapat dikelola lebih lanjut sesuai dengan prinsip sustainable development goals.
Back
