No Image Available

Preservasi Lahan Gambut untuk Pembangunan Masyarakat: Perspektif Multidisiplin

 Author: Erlinda Yurisinthae, Erina Riak Asie, Nyahu Rumbang, Shenny Oktoriana, Hardi Dominikus Bancin, Diah Trismi Harjanti  Category: Pengajuan ISBN  Publisher: UNTAN PRESS  Dimension: 15.5 x 23 cm
 Description:

Preservasi lahan gambut merupakan upaya preventif untuk mempertahankan kondisi ekosistem agar fungsi ekologisnya, seperti penyimpanan karbon, pengaturan hidrologi, dan dukungan keanekaragaman hayati, tetap terjaga. Dalam kerangka pengembangan masyarakat, preservasi tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan lingkungan, tetapi juga sebagai strategi pembangunan yang terintegrasi dengan peningkatan kesejahteraan komunitas lokal. Melalui pendekatan inklusif, preservasi diarahkan pada pemberdayaan sosial, diversifikasi mata pencaharian, serta pemanfaatan berbasis kearifan lokal sehingga masyarakat diposisikan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem gambut.

Dari sisi ekologi, lahan gambut dipahami sebagai ekosistem unik hasil akumulasi bahan organik selama ribuan tahun dalam kondisi jenuh air. Karakteristik fisik dan kimia gambut yang khas—pH asam, kandungan air tinggi, dan keterbatasan unsur hara—membuatnya suboptimal bagi pertanian konvensional, namun sangat penting bagi stabilitas iklim global. Indonesia, dengan luasan gambut tropika terbesar di dunia, menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi, drainase, dan kebakaran berulang. Oleh karena itu, strategi preservasi dan restorasi dirumuskan melalui konsep 3R: rewetting untuk mengembalikan fungsi hidrologi, revegetation untuk memulihkan tutupan vegetasi, dan revitalization untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui usaha ramah gambut.

Dalam dimensi agribisnis, preservasi ditegaskan melalui pengembangan sistem agribisnis berkelanjutan yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologi. Praktik lokal berbasis kearifan tradisional menunjukkan bahwa pemanfaatan gambut dapat dilakukan secara adaptif dengan memilih komoditas yang sesuai, menjaga kelembapan tanah, dan memanfaatkan pola agroforestri. Model agribisnis berkelanjutan, termasuk paludikultur, pengelolaan hortikultura adaptif, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran, memberikan peluang ekonomi baru tanpa mengorbankan fungsi ekologis gambut.

Analisis biaya–manfaat memperlihatkan bahwa meski biaya preservasi cukup besar pada tahap awal, manfaat jangka panjang jauh lebih signifikan. Biaya mencakup investasi untuk restorasi hidrologi, infrastruktur pencegah kebakaran, dan peningkatan kapasitas masyarakat, sementara manfaat meliputi penurunan emisi karbon, perlindungan kualitas udara, berkurangnya risiko banjir, hingga terciptanya lapangan kerja di sektor restorasi. Kajian lintas negara menunjukkan bahwa investasi pada preservasi menghasilkan keuntungan ganda, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap guncangan perubahan iklim.

Pendekatan ekofisiologi pertanian turut memperkaya strategi preservasi dengan memahami interaksi antara kondisi biofisik gambut dan respons fisiologis tanaman. Pengetahuan ini penting untuk memilih jenis tanaman adaptif seperti sagu, purun, dan jelutung, serta merancang teknik budidaya yang sesuai dengan karakteristik tanah gambut. Dengan demikian, sistem pertanian yang dikembangkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga tetap menjaga fungsi ekologis ekosistem.

Sementara itu, perspektif geografi menekankan pentingnya pendekatan keruangan dalam preservasi gambut. Analisis spasial memungkinkan identifikasi wilayah prioritas berdasarkan ketebalan gambut, kedalaman muka air tanah, kerentanan kebakaran, serta tekanan konversi lahan. Informasi ini menjadi dasar untuk penyusunan zonasi perlindungan, area budidaya terbatas, dan kawasan restorasi yang lebih tepat sasaran. Selain aspek biofisik, pendekatan keruangan juga menyoroti pola hubungan masyarakat dengan lingkungannya, sehingga intervensi preservasi dapat dirancang sesuai kondisi lokal melalui pemetaan partisipatif.

Secara keseluruhan, enam bab buku ini menegaskan bahwa preservasi lahan gambut hanya dapat berhasil melalui integrasi multidimensi. Upaya ini harus memadukan aspek ekologi, sosial, ekonomi, teknologi, dan keruangan, serta menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor sentral. Preservasi tidak semata-mata menjaga cadangan karbon global, tetapi juga menjadi strategi pembangunan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga warisan ekologis bagi generasi mendatang.


 Back